Bersama kicauan burung di pagi hari, ingin rasanya kulepaskan segala kepenatan di hati dengan mengajak kembali jari-jemari ini berlaga di atas papan keyboard kecil ini. Setelah cukup lama aku bergelut dengan kotak persegi ini dengan tugas yang cukup melelahkan, yaitu skripsi, kini aku ingin mengalihkan yang berat itu kepada permasalahan yang ringan sambil melepaskan kepenatan di hati.
Mungkin tulisan kali ini lebih kepada curahan perasaan hati, dimana hari ini, esok dan seterusnya jika aku masih hidup di atas muka bumi maka rintangan, halangan dan tantangan masih akan ada dalam episode kehidupanku. Aku sendiri sebenarnya tidak begitu memahami apa perbedaan diantara ketiga kata di atas. Tapi yang jelas hidup lebih mengarah kepada kata perjuangan. Entah perjuangan untuk mengisi perut, perjuangan untuk sebuah harga diri atau perjuangan untuk yang lain. Dan yang pasti, tujuan sebenarnya dari hidup adalah perjuangan dalam menghamba, berbakti, mengabdi kepada Sang Pencipta.
Berkaca kepada diriku sendiri, mungkin selama ini aku masih merasa bahwa diriku ini adalah milikku sendiri. Semua itu masih terasa ketika masih terdengar kata keluhan, “Ya Allah, mengapa engkau berikan kepadaku cobaan seperti ini”. Padahal hakekatnya kita adalah milik Allah sehingga terserah Allah mau diapakan kita ini. Tapi yang jelas aku yakin bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Sempurna, tidak ada kesalahan dalam setiap perbuatan-Nya.
Lelah memang jika kita mengharapkan sesuatu kepada orang lain, jenuh memang jika kita berharap pada orang lain, tidak menyenangkan memang jika hati ini kita sandarkan kepada yang lain dari selain Allah subhanahuwata’ala. Semua itu hanya akan menjadi kelelahan di dalam mental hidup kita. Allahlah tempat hati kita bergantung, karena kepada-Nya segala urusan kembali. Tidak ada yang bisa menghalangi kehendak-Nya ketika Dia telah berkehendak dan tidak ada yang bisa menyuruh-Nya ketika Dia tidak berkehendak. Di tangan Allahlah kekuasan mutlak itu berada. Adapun manusia, jikalaupun dia bisa mengatur atau mencelakai kita maka itupun juga atas kehendak dari Allah.
Perjalanan masa telah mengantarkanku kepada berbagai macam peristiwa hidup. Tapi entah dari berbagai macam peristiwa itu berapa banyak yang telah aku pelajari untuk menjadi pelajaran berharga dalam hidupku. Entah berapa banyak jumlah kegagalan yang kembali terulang hanya karena aku tidak belajar dari kegagalan atau kegagalan orang lain di masa lalu. Entah berapa banyak keberhasilan yang harus tertunda karena gagalnya aku belajar dari keberhasilanku atau keberhasilan orang lain di sekitarku.
Aku sadar untuk menjadi dewasa, tidak butuh hanya kepada banyaknya usia yang menyertai hidup ini. Tapi lebih dari itu, kedewasaan bisa dilihat dari seberapa banyak aku belajar dari setiap peristiwa yang ada dalam hidupku ini. Pengalaman hidup seringkali menjadi pelajaran berharga dalam hidup seseorang. Sebuah kata/kalimat bisa menjadi penuh makna bagi seseorang tapi tidak bagi sebagian yang lain. Sebuah peristiwapun bisa menjadi demikian keadaannya.
Hidup tidaklah sekedar perjalan masa yang mengajak kepada kita untuk mengisinya dengan hura-hura kesana kemari, berjoged ria, bernyanyi-nyani, menghabiskan umur dengan kesiaa-siaan, seolah-olah hidup itu milik dia seorang dan habislah hidup itu dengan tutupnya usia. Dia lupa siapa sebenarnya dia itu. Dia lupa untuk apa dia datang di dunia ini dan akan kemana dia setelah ini.
Ya Allah bantulah hamba untuk menghamba kepada-Mu dengan sebenar-benar penghambaan.